1001 Cara Pihak Lawan untuk Tumbangkan Basuki Djarot

1001 Cara Pihak Lawan untuk Tumbangkan Basuki Djarot

BERBAGI
Image result for banner website

Jakarta РKetua Forum Komunikasi Ulama dan Masyarakat (Forkum) Gus Sholeh Mz menyatakan bahwa berbagai cara telah dilakukan oleh lawannya untuk menjatuhkan Basuki Djarot di Pilkada DKI Jakarta. Mulai dari kasus korupsi, isu SARA, memakai ayat-ayat hingga mayat, sidang dugaan penistaan agama hingga terakhir video yang dianggap provokatif.

“Diputaran pertama, Ahok diisukan ini itu sampai demo besar-besar masih gak mempan dan gak juga tumbang. Lanjut diputaran kedua makin ganas, gunakan ayat sampai mayat, sekarang digoreng lagi sidang tuntutan dugaan penistaan agama dan terkini video diberi judul “Beragam Itu Basuki Djarot”,” ungkap Gus Sholeh saat pengajian blusukan di Perumahan Kopti Kelurahan Setu Kecamatan Cipayung Jaktim, Senin (10/4).

Menurut dia, upaya-upaya itu dilakukan untuk mencari celah kesalahan dan titik lemahnya paslon nomor urut 2 ini, ditambah lagi soal video kampanye tersebut. Sengaja digoreng di last minute agar suara Basuki Djarot semakin merosot diputaran kedua. Dia menilai video itu adalah bagian dari perjalanan bangsa. Termasuk dengan adanya fakta aksi damai dalam skala besar yang berlangsung beberapa waktu lalu.

“Video itu jelas memotret fakta sejarah dan tidak mengada-ada. Jadi memang penilaian itu akan beragam, tergantung orangnya. Kalau dia tak sepakat dengan paslon 2 ya pasti bereaksi lah,” kata Gus Sholeh.

“Sekarang ini warga Jakarta mau cari pemimpin atau Gubernur atau mau ngajakin berantem, makin aneh-aneh aja. Jangan ikut-ikutan edan,” jelasnya.

Dikatakannya, apabila terjadi perbedaan pendapat dalam menginterpretasi video tersebut, dia menilai adalah hal wajar. Mungkin saja ada persepsi pihak lawan yang menganggap iklan kampanye itu menyinggung SARA, tetapi itu soal perbedaan interpretasi yang wajar-wajar saja. “Sudut pandang orang kan berbeda-beda,” ucapnya.

Dia pun mengimbau agar semua pihak bisa bersikap bijak menyikapi iklan kampanye tersebut yang menuai kontroversi. Menurutnya, masyarakat khususnya warga Jakarta yang terbiasa hidup dalam pluralisme, jangan membiarkan diri untuk hanyut dalam pertarungan-pertarungan elit politik yang sudah dipasok dengan gagasan kebencian dan rasa permusuhan.

“Kita harus bijak menyikapinya. Ada pesan yang ingin disampaikan tentu dengan konteks yang lebih luas. Kita sebagai masyarakat yang plural jangan sampai terbawa pertarungan elit,” sebut dia.

Masih kata Gus Sholeh, pesan yang disampaikan adalah tentang pentingnya menjaga Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di Jakarta, yang merupakan milik semua masyarakat Indonesia, tanpa memandang suku, agama, ataupun ras. Sehingga siapapun memiliki hak yang sama untuk menjadi apapun di ibukota ini.

“Kita harus jaga kondusifitas wilayah. Jangan mau terpancing situasi. Kalau mau nyoblos nomer 2 silahkan, jangan di kafir kafirkan,” tukasnya.