I Nyoman Ardana Di Hadirkan Sebagai Saksi Dalam Sidang Lanjutan Pengadilan Gianyar...

I Nyoman Ardana Di Hadirkan Sebagai Saksi Dalam Sidang Lanjutan Pengadilan Gianyar Provinsi Bali

BERBAGI
Photo

DELIK INDONESIA – Sidang lanjutan kasus yang menjerat Notaris Umiati Soedjati, kembali digelar di Pengadilan Negeri Gianyar Provinsi Bali, pukul 15.00 WITA dengan agenda Sidang keterangan saksi dari pemilik tanah (I Nyoman Ardana). Rabu, (4/10)

Adapun saksi yang di hadirkan dalam sidang lanjutan perkara tersebut adalah I Nyoman Ardana (Putra dari pemilik tanah). Ardana dihadirkan oleh jaksa penuntut umum I Wayan Genip.

Selain itu, Kuasa Hukum dari pihak korban, menegaskan Bahwa dalam persidangan tersebut, terungkap I Nyoman Ardana sama sekali tidak mengetahui adanya perjanjian jual beli tanah seluas 53 are di wilayah Desa Getasan Ubud dengan pembeli pertama, Maria Stella. Katanya

Ardana juga mengaku, dirinya tidak tahu adanya putusan verstek No. 145/Pdt/G/2015, tertanggal 13 Februari 2015 sebelumnya. lanjutnya

Dalam sidang saksi tersebut, Majelis Hakim mencurigai dengan I Nyoman Ardana selaku pewaris tanah, karena ketidaktahuannya. Hakim anggota, Danu Arman, bertanya mengenai perjanjian antara pembeli tanah pertama MS dengan I Suana yang diwakili oleh saksi I Nyoman Ardana selaku Anak yang mendapat kuasa untuk melakukan transaksi jual beli tanah tersebut.

“Bikin perjanjian di notaris masak nggak tahu isinya. Nggak usah berbohong, apa benar tidak tahu,” ujar Danu Arman, dihadapan sidang.

Diketahui, pembeli tanah antara MS dengan I Suana ini terlibat transaksi atas tanah seluas 5.310 m2 dengan nilai Rp.8,6 Miliar sekian yang terletak di desa kedewatan, kecamatan ubud, kabupaten gianyar bali.

Kemudian Pembeli, mengajak I Nyoman Ardana mengurus perubahan aspek sertifikat di notaris Umiati pada Juli 2013 lalu. Perubahan aspek itu paling lama berlangsung 6 bulan. lanjut Danu saat mengutarakan kronogis kejadian

Namun, berjalan 4 bulan, pihak Ardana justru menagih sertifikat yang masih proses di notaris Umiyati. Tentu saja pihak Umiyati tidak bisa memberikannya karena masih proses. Aspek sendiri rampung pada September 2014 lalu. selain itu, Alasan lain umiati tidak memberikan sertifikat tersebut karena tidak mengetahui adanya pembatalan perjanjian di pengadilan. Tambahnya

“Bapak saya khawatir dan terus bertanya,” sahut Ardana. Danu Arman juga mencecar Ardana, apakah ada kepentingan lain dan ingin menjual tanah ini ke pihak lain selain Pembeli pertama si Stella?. “

Selain dicecar pertanyaan oleh majelis hakim, saksi Ardana ini juga ditanyai oleh kuasa hukum terdakwa. Salah satu kuasa hukum Umiati , yakni Zainal Muttaqin, mempertanyakan seberapa dekat tanahnya dengan tanah Agung Podomoro, yang tak lain perusahaan real estate besar di Jakarta. Oleh Ardana dikatakannya lokasi tanahnya berjauhan jaraknya sekitr 3 km dan dibatasi sungai.

“Tanah saya jauh, dibatasi sungai. Ada tiga kilo (meter),” ujar Ardana.

Selain mengaku tanahnya jauh dengan tanah milik Agung Podomoro, saksi Ardana juga megaku tidak paham kenapa harus mengurus aspek ini. Ketidaktahuan Ardana ini kembali ditanyai oleh kuasa hukum terdakwa lainnya, Zulfian Rehalat. Kuasa terdakwa mempertanyakan apakah ada kerugian apabila aspek tidak dikembalikan oleh terdakwa Umiyati?

“Kalau lama sertifikat gak dikasih, gak bisa lakukan jual beli,” terang Ardana. Lalu kuasa terdakwa kembali meyakinkan adakah pembeli lain? ” Belum. Siapa tahu kalau datang sertifikat, ada pembeli,” ujar Ardana.

Mengenai seluruh keterangan saksi I Nyoman Ardana itu, terdakwa Umiyati yang diberikan kesempatan bicara langsung memberikan tiga sanggahan, antara lain :

“Pertama, Bahwa I Nyoman Ardana hanya dua kali  bertemu dengan Umiati Soedjati, bukan berkali-kali. Baik di kantor Notaris dan/atau di rumah saya.

Kedua, bahwa Down Paymet (DP) yang diberikan bukanlah Rp 20 juta, melainkan Rp 30 juta, dengan rincian Rp 20 juta dianggap DP dan sisanya Rp. 10 Juta untuk membayar biaya perubahan aspek.

Ketiga, bahwa perjanjian jual beli di bawah tangan antara Penjual dan Pembeli sudah saya bacakan dihadapan kedua belah pihak, yaitu Ardana selaku pemilik dan MS selaku pembeli.