Jaga Gesekan SARA di Kalbar, Mahasiswa Diminta Stop “Teriak” Khilafah

Jaga Gesekan SARA di Kalbar, Mahasiswa Diminta Stop “Teriak” Khilafah

BERBAGI
Photo

DelikIndonesia – Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) Kota Pontiannak, Mussolli mengingatkan bahwa Pilkada 2018 nanti, potensi gesekan antara suku dan adat yang ada di Kalimantan Barat sangat rentan terjadi. Apalagi ia mengatakan jika di wilayah tersebut suku maupun adatnya sangat beragam, maka dari itu dari ia mengatakan jika PMII harus bisa menjadi garda terdepan untuk menjaga kemajemukan tersebut.

“Moment Pilkada tak lepas dari isu SARA. Maka dari itu, saya harapkan PMII harus menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI dengan menangkal isu SARA, untuk sama-sama menyatukan perbedaan suku yang ada di Kalbar,” kata Mussolli dalam sebuah dialog publik bertemakan “Persatuan Kebhinekaan Suku dan Adat Kalimantan Terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia” di Aula Magister FISIP Universitas Tanjungpura (Untan), Jalan Imam Bonjol, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (20/10/2017).

Selain Mussolli, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalbar, Erry Iryansyah juga menyerykan hal senada. Ia meminta kepada seluruh elemen Masyarakat, khususnya Mahasiswa di Kalimantan Barat untuk bisa menangkal berbagai isu SARA yang dimainkan dalam kontestasi politik.

Selain itu, ia juga meminta agar berbagai isu yang bertebaran baik di dunia offline maupun online sekalipun dapat disaring dengan baik, sehingga informasi dan data yang diterima masyarakat benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan mudah percaya isu-isu yang berbau SARA, karena tidak penting. Apalagi menjelang pilkada harus kita teliti dari mana asal berita tersebut, apakah benar atau salah,” kata Erry.

Masih dalam kesempatan yang sama, Alumni PMII Cabang Semarang, Ismail Ruslan menuturkan, bahwha Kalbar dinilai oleh para peneliti sebagai miniaturnya Indonesia. Karena hampir semua suku ada di Kalbar, agama etnik dapat menjadi kekuatan dan pemersatu atau dapat juga digunakan untuk membelah kesatuan.

Ia mengatakan flashback peneliti sudah menemukan peristiwa 10 tahun belakangan di Kalbar bahwa lemilukada Kalbar selalu diwarnai ketegangan atas dasar isi agama dan etnik.

Kemudian pemilukada tahun 2014 isu etnis dan agama sangat kuat, tahun 2018 diprediksi juga akan memanas. Menurutnya, ada dua hal yang selalu terjadi di Kalbar ketika mendekati pemilu yaitu isu agama dan etnis.

“Mengapa para kelompok agama (founding father) mengatakan dan memilih kita tidak menjadi negara agama namun tidak boleh lepas dari agama. Mereka lebih menjadikan negara ini berpandangan yaitu pada Pancasila sebagai pengikat keberagaman kita. Kenapa mereka tidak memilih negara agama karena negara ini akan terpecah belah,” ujar Ismail.

Untuk itu, Ia pun meminta kepada seluruh stakeholder dan para Mahasiswa khususnya untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Salah satu kuncinya adalah stop membicarakan soal ide kepemimpinan politik bentukan ormas terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yakni Khilafah.

“Kita sebagai anak bangsa tidak boleh membicarakan tentang khilafah di kampus. Sehingga NKRI, Pancasila harus dijaga di negara kita ini,” terangnya.

Kemudian salah satu narasumber lainnya yakni Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalbar, Garuda Wiko menyampaikan, bahwa kebhinekaan dan keberagaman merupakan sebuah perspektif yang sedikit bisa membawa mengatasi masalah keberagaman di Indonesia.

Apalagi di era percepatan perkembangan teknologi informasi yang saat ini berlangsung, ia pun menekankan bahwa masyarakat harus bisa mengimbangi dengan berbagai inovasi yang baik dan positif.

“Perhatian kita terganggu oleh kemajuan teknologi transformasi. Dunia cepat berkembang dengan kemajuan teknologi yang terjadi. Saking cepatnya masa lalu dan masa sekarang masa depan itu adalah hari ini karena saking cepatnya perkembangan itu,” ujar WIko.

“Dari berbagai macam kata kunci, saya mengutip beberapa hal yaitu Konsistensi, kita semua sudah punya kesadaran Lateral. Persoalan inovasi. Inovasi memang luar biasa, bisa dilihat dengan canggihnya tekhnologi,” tambahnya.

Semuanya bergerak cepat tanpa ada batas Individual Customer. Orang akan memilih yang terbaik dan termurah dan tidak perduli darimana asal produksinya. Untuk itu, Wiko pun meminta agar apapun perkembangan dan inovasi yang terjadi, jati diri sebagai bangsa dan negara Indonesia tidak luntur.

“Melihat kebhinekaan itu seperti apa? Dengan tantangan baru yang ada. Kebersamaan/gotong royong, jangan sampai kita menghilangkan jati diri kita. (Baik) Di bidang hukum, dalam pemerintah dan sebagainya,” imbuhnya lagi.