Laskar ASWAJA Desak ANIS – SANDI Cabut Ijin ISMAYA Grup dan Sejenisnya

    Laskar ASWAJA Desak ANIS – SANDI Cabut Ijin ISMAYA Grup dan Sejenisnya

    BERBAGI
    Gambar Iklan DWP Ismaya Grup/Festivalsherpa wpengine - netdna-ssl.com
    Photo

    RELEASE – Penutupan Alexis bukan sebuah kebangaan bagi Anis – Sandi karena Hotel Alexis sudah berakhir di era gubernur sebelumnya. Anis – Sandi tahu bahwa banyak tempat di jakarta seperti Alexis maupun kelasnya di atas Alexis itu banyak, jangan hanya Alexis yang di buat ramai yang lain dong.

    Kasus alexis ini bisa jadi hanya sebagai pencitraan dan bisa jadi Nanti akan ganti nama, kita tidak tahu, jadi saya himbaukan kepada rakyat jakarta untuk jangan terpancing dengan gerakan pencitraan yang di lakukan oleh pejabat negara, baik walikota, gubernur dan presiden di republik indonesia ini.

    Anis – Sandi jangan bermain – main dengan amanan yang ia pegang jangan pula jual agama untuk merai kekuasaan lalu menjalankan bisnis, kami percaya janji Anis – Sandi di kampanye untuk menertibkan tempat hiburan di jakarta salah satunya adalah alexis dan mengembalikan indonesia kepada asalnya yaitu negara yang beradab dan memiliki budaya ketimuran kita.

    Karena indonesia terutama jakarta ini sudah kacau balau, bayangkan saja ini bukan dari zaman sekarang bisnis lendiri ini terjadi di bangsa ini, coba kita reviuw kembali, dulu di Era Soeharto tempat hiburan malam dikuasai oleh Keluarga Ibnu Soetowo, yang di komandani oleh Adiguna Sutowo, yang menggunakan: TW,Kakak beradik Cahyadi Kumala dan Haryadi Kumala.

    Tapi setelah era reformasi khususnya era SBY bermunculan banyak tempat hiburan yang berkelas dunia.Mengapa dikatakan berkelas dunia? karena sudah di kelola sebagaimana layaknya industri yang melibatkan agent international penyedia wanita penghibur, agent musik dan professional dance.

    Tempatnya pun di design sangat mewah untuk sorga bagi pelanggan Spa, Music lounge, massage, KTV, Bar. Sekilas memang tempat ini sebagai etalage wisata malam. Tapi bukan rahasia umum bahwa tempat – tempat itu juga menyediakan kamar hotel dan kamar massage yang bisa dipakai tempat execute.

    Nah di era Foke sebagai Gubernur dan SBY sebagai presiden, business hiburan malam nampak adem walau menyimpan api dalam sekam karena persaingan keras antar pemilik business hiburan. Yang menarik adalah datangnya pendatang baru yang tampil percaya diri di era SBY, yaitu Muhammad Arief ( Cocong ).

    Dulu adalah sahabat SBY waktu SBY bertugas di Palembang. Bisnis utamanya adalah jasa EMKL, yang tentu punya
    koneksi hebat di kalangan pejabat bea cukai.

    *Selama era
    SBY, Cocong mengembangkan bisnis hiburan dibawah bendera Malio Group, yang meliputi:
    – Stadium,
    – Malioboro,
    – Milles Club,
    – Sumo,
    – Classic,
    – Nebula,
    – King Cross,
    – Level V,
    – Exodus,
    – Kampus,
    – Rajamas.

    Keberadaan Cocong membayangi Alexis Group yang mengelola:

    – Alexis Hotel,
    – Play Club,
    – Zen,
    – Club 36,
    – Emporium,
    – Colosseum and 1001,
    – Tease Club.

    Orang awam tahunya pemilik Alexis Group adalah Alex Tirta, Tapi kalangan business tahu dibalik nama Alex Tirta adalah pemain lama dengan Godfather adalah TW. Juga di ceruk business hiburan seperti life style night bagi kalangan middle class, seperti

    – OPCO,
    – Ismaya,
    – Union Group,
    – Potato Head,
    – MRA,
    – Hard Rock Café,
    – MAP ,
    – Cork and Screw,
    – All-In,
    – Biko,
    – Immigrant,
    – Rys,

    Dimana semua itu berhubungan dengan miras yang berlisensi dari pemerintah, yang umumnya dikelola oleh putra putri konglomerat yang tadinya sekolah di Amerika atau Australia. Di Era Ahok fenomena bisnis hiburan ini dipetakan dengan baik. Ahok melihat potensi PAD ada pada bisnis ini.

    Makanya dia tidak melarang secara ketat walau dia sering nyinyir soal bisnis ini. Itu mungkin sebagai bentuk penolakannya sebagai pribadi krisitiani yang taat. Ahok menetapkan aturan pengawasan terhadap tempat hiburan itu dengan menempatkan CCTV di tempat tersebut, dan cashier online ke database pendapatan daerah untuk memastikan tidak ada penyelewengan pajak.

    Kemudian menetapkan pajak hiburan setinggi tingginya.Jadi sama dengan kebijakan penjualan rokok di luar negeri.

    Silahkan beli tapi pajak 4 kali lipat dari harga. Kalau bandel anda harus bayar ongkos sosialnya, tapi kalau engga mau itu memang lebih baik. Semua tahu bahwa bisnis hiburan itu berhubungan dengan lingkaran kekuasaan baik kekuatan informal maupun formal. Di Era Soeharto , upeti mengalir kepada petinggi TNI sebagai bentuk biaya perlindungan.

    Di Era SBY, biaya perlindungan diberikan bukan hanya kepada TNI tapi juga ORMAS – ORMAS. Di Era Jokowi keadaan ini tidak berubah.Hanya saja menjadi lain, ketika group Cocong mulai melakukan ketidak sukaan terhadap kebijakan Ahok, dan ini DIKETAHUI oleh Ahok dengan adanya BANYAK TEKANAN dari kalangan ormas dan Partai OPOSISI kepada Ahok.

    Namun bukannya Ahok berdamai malah MAKIN GILA DIA.

    Di era Ahok sebagai Gubernur:
    – Stadium,
    – Kampus,
    – Rajamas,
    – Milles,

    Semua berhasil DITUTUP oleh Ahok.Itu semua tadinya milik Malio Group, Cocong. Sementara Group Alexis lebih bisa menerima kebijakan Ahok. Dari teman, saya tahu bahwa TW sangat takut melanggar aturan apalagi sampai berani melawan. Engga mungkin TW berani. Dari dulu dia aman karena loyal kepada penguasa , siapapun itu penguasanya.

    Ketika Kampanye PILKADA DKI, Anies selalu nyindir Alexis tanpa sekalipun dia berani nyindir Malio Group. Karena kita tahu bahwa Malio group memang dibacking oleh Baret Merah dan Partai dari koalisi Merah Putih berserta Ormas pendukungnya. Jadi, silahkan nilai sendiri bahwa Issue soal penutupan Alexis tak lain riak dari adanya persaingan bisnis hiburan malam antar dua godfather, TW dan Cocong. Dan ini berhubungan dengan uang beredar sedikitnya Rp. 60 trilun setahun. Apakah dengan uang sebanyak itu akan mudah membuat TW kalah begitu saja.? Akses politik TW lebih hebat.Mau coba.

    Sumber Release : Berbagai Sumber

    Jakarta, 01 – 11 – 2017

    BUNG REY – FOUNDER : LASKAR ANIS – SANDI WATCH JAKARTA

    Contak : 0812 – 1829 – 8009