Pencemaran Teluk Jakarta, Racun Merkuri Atau Racun Reklamasi

Pencemaran Teluk Jakarta, Racun Merkuri Atau Racun Reklamasi

BERBAGI
Photo

OPINI PUBLIK – Menarik bagi saya hari ini, ketika pagi tadi saya melewati jalan Merdeka Selatan, Jakarta, tepatnya didepan gedung Balaikota DKI, kantor Gubernur DKI Jakarta. Menarik karena didepan gedung dimana sekarang Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berkantor itu, saya lihat seratusan massa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Saya tidak terkejut jika gubernur baru didemo, itu mungkin dan biasa saja. Yang membuat saya terkejut adalah tema aksi yang dibawa oleh para peserta aksi yang mengatasnamakan Masyarakat Pesisir Peduli Lingkungan (MPPL), yang membawa isu pencemaran Teluk Jakarta sebagai materi aksi.

Saya menilai, ide dari tema aksi tersebut justru yang seharusnya sejak lama dipertanyakan, inisiatif kawan-kawan MPPL menjadi genuine dimata saya. Masyarakat pesisir harus digiring kepada nasib lingkungan dimana mereka tinggal, ketimbang diajak main politik. Mengapa saya mengatakan bahwa inisiatif tersebut genuine, karena belakangan ini masyarakat pesisir diklaim dalam banyak aksi yang memiliki muatan politis ketimbang substantif. Banyak anasir, maaf saya tidak akan mengatakan mereka aktivis, yang mempergunakan masyarakat pesisir dalam agenda-agenda politisasi jangka pendek mereka. Dan yang paling mutakhir adalah berkenaan dalam isu reklamasi.

“Sesungguhnya, apa yang diteriakkan oleh MPPL tadi pagi menjadi jawaban terhadap satu atau bahkan dua dari tiga tuduhan para anasir penentang reklamasi, yang dipropagandakan oleh gubernur baru, akan dihentikan entah dengan cara apa dan bagaimana.”

MPPL meneriakkan kerusakan lingkungan Teluk Jakarta yang diyakini telah tercemar oleh limbah logam berat (merkuri) sejak puluhan tahun. Saya kemudian mencoba mengkontak beberapa kawan yang aktif berkampanye tentang bahaya racun merkuri tersebut dan akhirnya mendapatkan banyak sekali bahan kajian ilmiah tentang keberadaan unsur merkuri tersebut di perairan Teluk Jakarta bahkan sejak puluhan tahun lalu. Menarik, karena kemudian saya menarik benang merah bahwa ternyata proses menebalnya sedimen logam berat atau merkuri didasar laut perairan Teluk Jakarta memang telah terjadi sejak era Orde Baru dan terus berlangsung hingga kini. Dalam banyak kajian ilmiah tersebut dikatakan bahwa faktor terbesar penyumbang limbah beracun merkuri adalah berasal dari sampah rumah tangga dan industri yang mengalir di sekitar 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta.

Sebagai aktivis di era pemerintahan Soeharto, kenyataan ini tidaklah mengejutkan mengingat terutama kelompok industri bisa semau mereka melakukan apa saja di era itu, termasuk membuang limbah seenaknya ke sungai. Di era itu, kekuatan modal yang dapat membeli kekuasaan aparat teramat sulit untuk dihentikan. Perilaku menyimpang terhadap masa depan lingkungan inilah yang menjadi cikal bakal kerusakan lingkungan perairan Teluk Jakarta. Belum lagi, di masa itu keberadaan masyarakat miskin dibantaran sungai seperti “dipelihara” oleh kekuasaan. Mereka itulah yang kemudian menjadi pengasup kedua terbesar tercemarnya sungai-sungai di Jakarta yang kemudian terbawa hingga Teluk Jakarta, dengan sampah rumah tangga yang tanpa disadari juga mengandung banyak limbah yang mencemari air.

Problematika itulah yang kemudian sempat diperkecil volume distribusi limbahnya dengan program Normalisasi Sungai di DKI Jakarta, di era gubernur Jokowi hingga Ahok. Dalam pemahaman saya akhirnya muncul suatu kesimpulan yang perlu digarisbawahi bahwa program normalisasi sungai tersebut bukan hanya untuk mengatasi masalah bencana banjir karena bantaran sungai diperlebar dan dibersihkan, tidak saja menjadi pintu keluar terkait masalah sosial tentang tata kelola pemukiman perkotaan dimana masyarakat tidak diijinkan tinggal di bantaran sungai tetapi harus ditempat yang lebih kayak, persoalan normalisasi sungai juga memberi sedikit kontribusi dalam upaya setidaknya mengurangi jumlah limbah tercemar yang dibuang ke sungai dan akhirnya semakin memperparah kondisi lingkungan perairan Teluk Jakarta.

Jika membaca hal diatas tadi, maka argumentasi bahwa reklamasi adalah penyebab kerusakan lingkungan di Teluk Jakarta, seharusnya terpatahkan. Pertanyaannya bisa dibalik, jika kerusakan lingkungan akibat limbah merkuri di perairan Teluk Jakarta yang dapat dilihat dari sangat tebalnya sedimen yang mengandung merkuri di dasar laut perairan Teluk Jakarta telah berlangsung puluhan tahun, maka kerusakan lingkungan yang mana yang disebabkan oleh reklamasi?

Berkaitan dengan persoalan sosial yang dituduhkan ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan perairan Teluk Jakarta berkait dengan nafkah nelayan pencari ikan, saya menjadi bingung. Bingung karena dengan kondisi perairan yang telah tercemar merkuri puluhan tahun, saya yakin tidak ada ikan yang mampu bertahan hidup ditempat itu tanpa keracunan merkuri. Ikan atau biota laut yang tercemar oleh merkuri tentu saja tidak layak pakan. Lalu, yang dimaksud banyak anasir bahwa reklamasi telah merusak perairan tempat nelayan mencari ikan bagi nafkah mereka itu perairan yang mana? Perairan yang telah tercemar limbah merkuri puluhan tahun dan hanya akan menghasilkan ikan-ikan yang teracuni merkuri itukah yang disebut sebagai tempat nelayan mencari nafkah? Itu sama saja mengatakan bahwa nelayan-nelayan itu melaut mencari ikan yang terkandung racun merkuri karena hidup di perairan yang tercemar merkuri, untuk kemudian menjualnya dipasar dan dikonsumsi orang banyak. Apakah benar nelayan kita berperilaku segila itu? Saya rasa tidak.

Banyak nelayan sejak lama melaut mencari ikan jauh ketengah laut hingga ke Kepulauan Seribu, bahkan tak jarang mereka melaut hingga perairan Laut Jawa yang mendekati Kalimantan atau juga hingga Kepulauan Riau. Jika nelayan sejak lama mencari ikan jauh ketengah lautan dikarenakan perairan radius beberapa mil dari pesisir Teluk Jakarta telah lama tercemar, lalu nelayan yang mana yang masih secara nekad mencari ikan disekitar pesisir Teluk Jakarta. Nelayan yang menangkap ikan yang terancam teracuni limbah merkuri dan menjualnya dapat dipastikan sebagai nelayan kriminal, karena racun merkuri yang termakan oleh para pembeli ikan tersebut dapat mengakibatkan penyakit bahkan kematian.

Saya tidak akan masuk kedalam isu tekhnis soal reklamasi dalam tulisan ini, tetapi sejak sekarang kita harus berani mengatakan bahwa jika perairan Teluk Jakarta tercemar oleh kandungan logam berat atau merkuri yang harus diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya akumulasi dalam tubuh biota air termasuk ikan. Karena kandungan logam berat yang terakumulasi dalam tubuh ikan dan biota air lainnya ini walaupun tidak sampai mematikan (lethal), tetapi yang pasti justru akan mengganggu kesehatan manusia yang mengkonsumsinya, bahkan dapat berakibat pada kematian. Maka kita seharusnya berani mengatakan pula bahwa mencari ikan di perairan Teluk Jakarta yang telah tercemar logam berat sejak puluhan tahun sesungguhnya praktik terlarang. Sebagai ilustrasi saja, hasil penelitian kerang hijau yang dibudidayakan di perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta menunjukkan bahwa kandungan logam berat Zn dan Pb pada kerang tersebut telah melebihi ambang batas maksimum untuk dapat dikonsumsi.

Nah, dengan demikian, masihkah kita berpikir bahwa reklamasi sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan laut perairan Teluk Jakarta? Benarkah reklamasi yang menyebabkan para nelayan kehilangan tempat melaut? Jawabannya menjadi singkat saja, reklamasi tidak memberi kontribusi terhadap tercemarnya perairan Teluk Jakarta yamg telah mengalami proses pencemaran puluhan tahun lamanya dan oleh karena itu maka mempraktikan kegiatan pencairan ikan di perairan Teluk Jakarta yang tercemar merupakan kegiatan yang berbahaya dikarenakan ikan yang ditangkap sangat mungkin tercemar merkuri dan berbahaya pula untuk dikonsumsi.

Jika demikian, layaklah saya bertanya pada para anasir penentang yang menggunakan isu pencemaran lingkungan untuk mempolitisir isu reklamasi, apakah penyebab pencemaran lingkungan perairan Teluk Jakarta yang mengakibatkan ikan dan biota laut disana juga tercemar oleh limbah logam berat? Racun merkuri atau racun reklamasi? Silahkan direnungkan. -1/11/2017

Penulis : Irwan (Penulis Adalah Aktivis/Pemerhati Sosial, Tinggal Dijakarta.