PMII Manado Gugah Semangat Tangkal Radikalisme dari NKRI

PMII Manado Gugah Semangat Tangkal Radikalisme dari NKRI

BERBAGI
Photo

DelikIndonesia – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Manado mengadakan dialog kebangsaan dengan tema “Bangun persatuan nasional: Lawan radikalisme, mewujudkan cita-cita Pancasila” di Manado Bersehati Hotel, Jl Jend Sudirman, No. 20, Lawangirung, Wenang, Lawangirung, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Salah satu narasumber yang juga menjadi keynot speaker, AKBP Bambang Dwi Wijatmiko sebagai perwakilan dari Polda Sulawesi Utara menyampaikan, bahwa pengaruh internasional sangat memiliki sumbangsih besar dalam mencetak kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik itu sisi positif maupun negatif.

Dan menurut AKBP Bambang, sisi negatif pengarus global yang harus diwaspadai adalah tentang gerakan dan paham radikalisme yang sebearnya menjadi ancaman bukan hanya di Indonesia saja, melainkan di dunia internasional sekalipun.

“Bahwa latar belakang pengaruhnya globalisasi mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara, tindakan radikalisme merupakan acaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata AKBP Bambang dalam keterangannya, Kamis (23/11/2017).

Kemudian AKBP Bambang juga menegaskan jika tindakan radikalisme bukan hanya masuk dalam kategori kejahatan kriminal biasa, melainkan memiliki dampak yang besar dalam tatanan kehidupan persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

“Tindakan radikalisme bukan semata tindakan keriminal dan keamanan namun juga permasalahan kesatuan bangsa, jadi radikal disini menurut bahasa adalah faham atau aliran yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan, atau menurut orang kristen menurut definisi adalah konsepsi sikap jiwa dalam mengusung perubahan dan cenderung mengusung kekerasan serta menghalalkan segala cara,” terangnya.

Lebih lanjut, perwira polisi berpangkat bunga melati dua tersebut menekankan jika paham dan tindakan radikalisme jelas sangat bertentangan dengan faslafah Indonesia, yakni Pancasila dan UUD 1945.

“Faham yang merasa paling benar, inklusif radikalisme juga menjugkirbalikan kehidupan bernegara yang bertolak dari Pacasila dan UUD 45,” tegasnya.

Untuk itu, ia pun meminta agar seluruh generasi bangsa Indonesia baik Mahasiswa, Pemuda maupun masyarakat luas untuk ikut serta menjadi garda terdepan menjaga NKRI dari masuknya kelompok pembawa paham radikal tersebut.

“Kita mulai memberikan pemahaman kepada masyarakat, bisa adik-adik membantu bersama kepolisian, toko agama. Jika terosis telah masuk, maka bisa dikeluarkan. Meningkatkan hidup bersamaan, perkuat nasionalisme, pendidikan karakter, berwawasan kebangsaan, perkuat ideologi bangsa dan pemahaman yang baik dari agamanya,” tutupnya.

Selain AKBP Bambang Dwi Wijatmiko, hadir pula dalam diskusi tersebut antara lain adalah Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sam Ratulangi Prof Dr Benny Pinontoan, Komisi Pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Pnt. Feki Korto, Akademisi Denni HR Pinontoan dan Wakil Sekretaris PW GP Ansor Sulawesi Utara Efendi Gani.

Acara yang dipandu oleh Arafat Soleman tersebut juga dihadiri oleh 200 orang peserta dari seluruh organisasi Cipayung Plus, KNPI Kota Manado dan seluruh organisasi intra kampus di seluruh kampus serta paguyuban di Manado.

Sementara itu, Ketua PMII Cabang Manado Jafar Noh Idrus menyampaikan bahwa dialog yang digelar tersebut diharapkan mampu memberikan pandangan kepada seluruh generasi muda Indonesia, untuk melihat bagaimana nasionalisme harus dijaga dengan baik sehingga paham dan gerakan separatis untuk merusak tatanan NKRI bisa dihalau sedemikian rupa.

“Dengan adanya dialog ini kita melihat kembali ke belakang sejarah bangsa Indonesia yang kini tidak sesuai lagi dengan semangat perjuangan kaum muda, semangat nasionalisme yang dibangun oleh pejuang-pejuang kita dari 1908 dan 1928 yang dikatakan sebagai konsensus bernegara,” kata Fajar dalam sambutannya.

“Semangat ini yang mulai hilang sehingga pola pikir dan pengetahuan kita tidak lagi memperbaiki bangsa kita sehingga adanya paham-paham yang merusak negeri kita sendiri. Sehingga dengan adanya dialog ini, maka kami dari PMII mengangkat tema ‘bangun persatuan nasional: lawan radikalisme, mewujudkan cita-cita Pancasila’,” imbuhnya.