Reklamasi Teluk Jakarta, Berdampak Hingga Ke Kalimantan

Reklamasi Teluk Jakarta, Berdampak Hingga Ke Kalimantan

BERBAGI
Reklamasi Teluk Jakarta
Image result for banner website

DELINDO – Tiga hari yang lalu, saya melakukan perjalanan organisasi (sebagai narasumber) ke Kalimantan Bagian Tengah, tepatnya di Sampit, Kabupaten Kotawaringan Timur. Senin malam saya tiba di Kota Sampit, istrahat 1/2 jam setelah melakukan perjalanan darat dan udara yang cukup melelahkan.

Pukul 23. 00, dengan terpaksa saya harus menyampaikan materi malam itu juga, karena sesuai schedule besok pagi ada agenda lain. Kebetulan materi yang di sodorkan oleh panitia kepada saya adalah “Menyelamatkan Indonesia dari Ancaman Krisis Agraria dan Pangan”. Namun saya ubah judulnya menjadi “Indonesia Darurat Agraria”. Kami pun memulai diskusi, dalam beberapa kali kesempatan menyampaikan materi, saya sering mengunakan bahasa berbagi pengetahuan dan belajar bersama ketimbang berlaku seperti narasumber yang sepertinya menguasai segala hal. Tutur Mahyudin Rumata (Ketua PB HMI Bidang Agraria dan Maritim/Koordinator Komite Penyelamat Teluk Jakarta) lewat pesan elekroniknya, (08/11).

Lanjut Yudi, di sela-sela berdialektika tentang problem agraria dan ancaman nyata krisisnya, tiba sesi tanya jawab. Salah satu peserta yang berasal dari sampit tiba-tiba menjelaskan sebuah situasi yang janggal akhir-akhir ini terjadi di Sampit, terutama di ujung pandaran (pantai, tempat wisata). Beberapa kapal yang menurut penuturan warga/nelayan sering lalu lalang dan silih berganti di depan pantai ujung pandaran. Setelah kawan-kawan ini melakukan advokasi, menemukan informasi bahwa lalu lalang dan hilir mudiknya kapal-kapal tersebut tak lain dan bukan adalah mangangkut atau menyedot pasir untuk kepentingan *Reklamasi Teluk Jakarta*.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014, revisi atas UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Bahwa penambangan pasir di laut merupakan salah satu aktivitas yang tidak benarkan atau di larang.

Menambang pasir di laut apalagi berdekatan dengan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil tidak di benarkan karena berdampak negatif terhadap situasi ekologis wilayah sekitar. Di antaranya: Membuat kekeruhan terhadap air laut yang tentunya berpengaruh pada terumbuh karang sebagai habitat pemijahan, perkembangbiakan sejumlah organisme yang hidup di laut. Selain terumbuh karang, tentu aktivitas pengerukan tersebut di pastikan berdampak terhadap hasil tangkapan para nelayan di wilayah sekitar dan memicu terjadinya abrasi atau pengikisan bibir pantai, serta masih banyak dampak lainnya. Tuturnya lagi

Kepastian penyedotan pasir laut di ujung pandaran untuk kepentingan *Reklamasi Teluk Jakarta*, saya dapatkan setelah berkesempatan mewawancarai beberapa warga yang tinggal di wilayah sekitar. Warga pun mengeluhkan aktivitas pengerukan dengan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah di terbitkan perizinannya sejak bulan September 2015 oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Ungkap Yudi aktivis Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa (PB HMI).

Sesuai keterangan yang kami dapatkan, terdapat tiga perusahaan penambangan yang mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP), di antaranya PT. Kalmin Sejahtera, PT. Kalmin Raya dan PT. Prakarsa Sejati. Ketiga Perseroan tersebut mendapatkan izin explorasi areal laut seluas 5.000 hektare. Fakta lain adalah, berdasarkan pengakuan warga memang sebelumnya telah terjadi sosialisasi penambangan pasir laut di depan ujung pandaran namun tidak di sebutkan pengerukan tersebut untuk kepentingan Reklamasi Teluk Jakarta. Itu artinya bahwa pemasok pasir laut untuk kepentingan reklamasi jakarta mengabaikan prinsip-prinsip FPIC (Free, Prior and Informan Concen). Bahwa apapun bentuk investasi atau apalah namanya itu, warga setempat wajib mengetahui, meminta pendapat serta persetujuannya. Katanya

“Dalam catatan kami yang di sadur dari berbagai sumber dokumen, selain ketiga perusahaan di atas. Terdapat beberapa suplier pasir Reklamasi Teluk Jakarta, di antaranya PT. Aswindo Pratama (954,6 Ha), PT. Citra Harapan Abadi (741,2 Ha), PT. Tri Yudha Dharma (655,1 Ha), PT. Multi Citra Global (430,7 Ha), PT. Mitra Usaha Riau (454,5 Ha), PT. Dicepco Indonesia (888,7 Ha), PT. Puri Sakti (675,5 Ha), PT. Purnama Gemilang (370,2 Ha), PT. Panca Resournces Ind (241,5 Ha). Dari sekian Perusahaan tersebut, potensi pengerukan pasir laut, jika di hitung secara matematis, total pasir.laut yang di angkut untuk kepentingan Reklamasi Teluk Jakarta sebanyak 88.835.076 meter kubik, dengan rata-rata produksi perhari 16.667 meter kubik”.