Mencari Pemimpin Yang Sudah Selesai Dengan Dirinya

Mencari Pemimpin Yang Sudah Selesai Dengan Dirinya

BERBAGI
Image result for banner website

PUBLIK BICARA – Riau sebagai provinsi yang kaya dengan hasil alam sering disebut dengan negeri di bawah minyak di atas minyak belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya.Mulai berdiri menjadi provinsi yang baru pada tahun 1957, Riau terus berbenah.

Ekspoitasi Blok Siak pada 1963 sempat menjadikan provinsi ini menjadi penyumbang terbesar minyak nasional pada era 70-an.

Bila kita telisik ke belakang, Putra daerah asli Riau yang menjabat Gubernur pertama kali ialah Arifin Achmad (menjabat pada 1966-1978), setelah era reformasi tokoh-tokoh Putra daerah sudah mulai menunjukkan eksistensinya melanjutkan estafet kepimimpinan provinsi ini, tercatat nama Saleh Djasit, Rusli Zainal, dan Annas Maamun hingga saat ini dipimpin oleh Arsyadjuliandi Rachman (Andi Rachman) sebagai Plt Gubernur.

Masih membekas juga di ingatan bahwa Provinsi ini memiliki 3 Gubernur yang harus berhenti di tengah jalan pemerintahannya karena tersangkut urusan Korupsi dan berakhir menjadi tahanan KPK. Saleh Djasit terjerat pengadaan mobil kebakaran, dan Rusli Zainal serta Annas Maamun terjerat kasus suap dan korupsi pemberian izin di sektor Kehutanan.

Oleh sebab itu Riau pun masuk menjadi salah satu dari 5 provinsi yang oleh KPK dijadikan Pilot Project Pemberantasan Korupsi (bersama dengan provinsi Sumatera Utara, Banten, Aceh, Papua dan Papua Barat).

Perubahan yang significant tentu harus menjadi visi pemimpin yang revolusioner bukan yang hanya melanjutkan pekerjaan birokrasi sebelumnya dan terjebak di rutinitas yang membelit di pemerintahan provinsi. Momentum pergantian kepemimpinan Riau pada waktu yang tidak berapa lama lagi bagi masyarakat Riau menjadi titik krusial bahwa paradigma berfikir masyarakat memilih pemimpin harus juga berevolusi mengikuti daerah lain yang telah menunjukkan bahwa masih banyak harapan di negeri ini, masih banyak asa, masih ada calon pemimpin yang amanah untuk mensejahterakan rakyatnya.

Kaum muda tentu sangat berharap terjadi perubahan pada negeri Melayu yang dicintainya ini. Kita semua berharap “Kapal Lancang Kuning” ini dinakhodai oleh pemimpin yang handal di derasnya arus korupsi dan badai nepotisme di pemerintahannya. Kami menyebutnya pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya, keluarganya dan golongannya.

Para kaum muda tentu ingat sosok yang muncul pasca reformasi yang berhasil menjadi trending arah pemimping daerah lainnya, sebut saja Jokowi (dari mulai walikota sampai menjadi RI 1), ada Basuki TP (dengan segala kontroversinya tapi harus diakui sudah menetapkan standar yang tinggi buat penerusnya), Ridwan Kamil (yang mengubah wajah kota Bandung menjadi semakin Paris van Java) atau Rismawati (Ibu yang sangat total memimpin Surabaya dengan segudang prestasi tingkat dunia) dan sederet pemimpin lain di daerah lainnya.

Tentu kita juga penasaran apakah di tanah Melayu ini kita tidak diberi berkah dengan pemimpin yang memang siap untuk menarik kemudi “Kapal Lancang Kuning” ini? Pemimpin yang memang memimpin karena panggilan untuk menjadikan Riau bermartabat berbudaya, memperbaiki dogma pemerintahan yang (mungkin) selama ini belum terdobrak menjadi pelayan masyarakat, pemimpin yang bukan bukan hanya niat memimpin tetapi mengerti dan dapat mengeksekusi permasalahan di tanah Melayu ini. Kita tentu merindukan pemimpin yang dapat merangkul semua elemen, adil bagi rakyatnya sehingga dapat menjadi harapan untuk mengadu.

Mindset masyarakat yang selalu berfikiran untuk selalu memilih yang se-darah dan se-daerah menjadi tantangan bagi masyarakat Riau untuk lebih cerdas dalam memilih pemimpinnya.Pola demokrasi mengamanahkan setiap warga yang cukup umur dan terdaftar sebagai masyarakat Riau memiliki hak suara untuk menentukan siapa pemimpinnya.

Track record masa lalu dan janji program para calon yang ingin berkompetisi di Cagub dan Cawagub Riau perlu untuk dianalisa apakah mampu direalisasikan di tingkat provinsi. Banyak program yang sudah dilakukan daerah lainnya yang dapat diserap untuk diaplikasikan di Riau. Tetapi yang paling utama apakah pemimpin tersebut sudah selesai dengan dirinya?

Jika belum selesai maka pilihan kita hanya (masalah waktu untuk) menjerumuskan mereka ke lubang yang sama dengan 3 gubernur terdahulu.

Pola transaksional gerakan dukung mendukung calon harus ditinggalkan, kompetisi fair mengedepankan persaingan yang sehat, sehingga masyarakat terdidik memilih yang terbaik dari yang terbaik. Yang kalah siap untuk tetap menopang pemerintahan bukan mencari-cari kesalahan. Sinergi menuju Riau gemilang adalah keniscayaan dan dengan segenap kekuatan yang terdapat di Riau pasti dapat terwujudkan.

Sebagai bagian dari masyarakat Riau, adalah IKA UNRI Jabodetabek coba menggagas diskusi kebangsaan yang akan diikuti oleh bakal calon pemimpin tersebut. Pembahasan mengenai visi misi dari tiap bakal calon dan diskusi yang melibatkan anggota dengan berbagai background tentu menarik untuk diikuti.

Bagaimana calon kepala daerah berstrategi menggenjot penerimaan daerah tanpa bergantung pada hasil minyak lagi, menggali program-program strategis dari bakal calon, dan mengukur kemampuan bakal calon untuk mampu menangani PR pemerintahan sebelumnya.

Dibutuhkan gerak cepat dan tuntas dalam penyelesaian berbagai kendala yang terdapat di Riau. Hanya pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya yang akan mampu mengambil tindakan yang berpihak pada warga bumi lancang kuning.

Oleh : Darma Prihartoni Oktafiandi,SP
(Wakil Bendahara Umum I IKA UNRI cabang Jabodetabek)