Temuan Pipa Gas di Reklamasi, Mahasiswa Gruduk APL

Temuan Pipa Gas di Reklamasi, Mahasiswa Gruduk APL

BERBAGI
Image result for banner website

Jakarta – Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Kader – kader Himpunan Mahasiswa Islam Anti Reklamasi atau disingkat KAHAR melakukan unjuk rasa di kantor Agung Podomoro Land, Jakarta Barat. Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 13:00 WIB dan barisan keamanan juga sudah berkumpul untuk mengawal massa aksi.

Menariknya dalam aksi tersebut juga terlihat preman – preman yang berbaur ditengah – tengah polisi dan mencoba mengintimidasi massa aksi yang sedang menyampaikan aspirasinya.

Dalam aksi tersebut massa aksi menuntut agar Reklamasi di Pulau G sebaiknya dihentikan karena selain menimbulkan kerusakan lingkungan dan menyusahkan nelayan, Reklamasi di Pulau G juga berdampak potensi bahaya dikarenakan adanya temuan pipa dan gas PLN.

Terkait masalah potensi bahaya pipa dan gas ini, belum ada solusi yang kompetitif dari pihak pengembang dalam hal ini Agung Podomoro beserta anak perusahaannya dan pihak PLN yang menangani pipa dan gas tersebut.

Suasana Aksi di Depan APL

Berikut adalah Press Release aksi Mahasiswa :

Proyek ambisius pemerintah DKI Jakarta sebelumnya (Basuki Djarot) bersama PT Agung Podomoro Land dan anak perusahaannya masih menjadi kontroversi hingga kini.

Proyek Reklamasi di Pulau G sudah banyak yang berpendapat dan menganalisa bahwa akan menjadi kerugian yang sangat besar kepada lingkungan dan masyarakat sekitar, bahkan lebih jauh lagi kerugiannya akan berdampak kepada seluruh Indonesia.

Meski demikian menteri Luhut Binsar Panjaitan masih setia menjadi garda terdepan dalam mengawal proyek Reklamasi di pulau G ini, meskipun menabrak aturan – aturan yang berlaku.

Kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam memimpin DKI Jakarta diharapkan banyak kalangan mampu menghentikan proyek reklamasi yang merugikan banyak pihak tersebut. Meski demikian usaha – usaha untuk melanjutkan proyek tersebut masih terus berjalan dan sifatnya seperti sembunyi – sembunyi.

Selain merugikan ekosistem dan kerugian ekonomi bagi nelayan – nelayan setempat, Reklamasi juga terindikasi akan menjadi jalur pasar gelap yang tidak dapat dideteksi, karena sifatnya yang privat dan tertutup. Menariknya kami menemukan juga dampak potensi bahaya pipa gas PLN dari Reklamasi Pulau G ini.

Perlu diketahui bersama bahawa dalam proyek ambisius tersebut terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang, yang hanya berjarak 300 meter.

Tempat yang juga objek vital nasional itu memproduksi 1.648 MW listrik untuk pasokan di Jawa dan Bali—terdiri PLTGU Blok 1 dengan kapasitas 508 MW, PLTGU Blok 2 dengan 740 MW, dan PLTU Unit 4 dan 5 berkapasitas 400 MW.

Informasi yang kami terima dari PLN pernah bahwa reklamasi akan berdampak pada semakin sempitnya zona sirkulasi air pendingin dan air baku.

Hal itu dapat mengakibatkan meningkatnya suhu air pendingin yang saat ini sudah mencapai 31,3 derajat celsius. Kenaikan suhu dapat menyebabkan pemborosan lantaran kapasitas pembangkit listrik anjlok dan tidak bisa bekerja secara maksimal.

Dampak Reklamasi yang menyebabkan krisis Energi ini akan berdampak ke seluruh Indonesia dari sector strategis manapun.

Hal inilah yang membuat wajib hukumnya kami kader – kader HMI yang anti Reklamasi dengan tegas untuk memberhentikan proyek reklamasi demi kepentingan bangsa dan Negara.

Atas dasar itulah kami memberikan poin – poin dibawah ini yang kiranya dapat mengetuk pihak – pihak pemangku kepentingan Reklamasi ini agar berhenti melanjutkan proyeknya.

1.    Dampak buruk lingkungan di sekitar teluk Jakarta terkait Reklamasi mempengaruhi ekosistem yang ada dan cepat atau lambat akan menimbulkan bencana – bencana alam kedepannya.

2.    Reklamasi secara langsung memiskinkan Nelayan yang hingga hari ini dampaknya membuat mereka kesulitan mencari nafkah.

3.    Dampak Reklamasi yang ternyata berbahaya karena disana terdapat PLTU & PLTGU yang menghasilkan daya sangat besar untuk Pulau Jawa dan Bali.

4.    Mendukung penuh program Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam menghentikan Reklamasi di Teluk Jakarta, khususnya di Pulau G.

5.    Demi kepentingan Jakarta dan Indonesia kedepannya kami berharap agar Bapak Luhut Binsar Panjaitan berhenti mendukung Proyek Reklamasi.

6.    Di sisi lain kami melihat, bahwa pengembang akan bertindak secara ambisius dengan tidak terlalu mendengar saran dari PLN terkait pipa dan gas yang dikelola oleh PLTGU muara karang. Sebab inilah yang membuat kami tegas untuk menyarankan agar reklamasi segara dihentikan.

Koordinator : KAHAR (Yassir)