LGBT ; Sejarah Kebodohan di Bumi Pertiwi

LGBT ; Sejarah Kebodohan di Bumi Pertiwi

BERBAGI
Image result for banner website

Publik Bicara – Dalam kurun beberapa waktu terakhir, Kembali “LGBT” sebuah akronim dari Lesebian, Gay, Biseksual, dan Transgender, menghebohkan bumi pertiwi ini dengan MK (Mahkamah Konstitusi) menetapkan Amar putusan untuk menolak permohonan yang di ajukan oleh AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Indonesia, dengan menetapkan untuk tidak memperluas pasal perzinaan di KUHP karena berdalih bahwasanya MK tidak memiliki kewenangan untuk membuat aturan baru dan Mahkamah juga menyatakan bahwa pasal-pasal KUHP yang dimohonkan untuk diuji-materi, tidak bertentangan dengan konsitusi.

Bicara tentang LGBT memang tak ada habisnya, karena terkadang apabila dibayangkan sangat jijik rasanya apabila ada prilaku-prilaku seksual yang menyimpang dalam kehidupan masyarakat, namun anehnya kaum LGBT malah mencoba mencari perlindungan hukum, dan yang lebih lucunya lagi aparat penegak hukum seolah-olah memberikan perlindungan hukum tersebut.

Lantas yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, apa sebenarnya yang menjadi problem untuk MK menolak permohanan yang di ajukan oleh AILA, sementara menurut UU no 39 tahun 1999 BAB III pasal 9 ayat 1 sampai 3 telah menyampaikan :

(1). Setiap orang berhak untuk hidup, dan mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf hidupnya

(2). Setiap orang berhak tenteram, aman, damai, sejatera lahir dan batin

(3). Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Dan Sangat ganjil apabila agama islam sebagai agama terbesar di indonesia  sebanyak 85 persen menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010 tetapi tidak mencerminkan nilai-nilai keislamananya.

Di dalam Al Quran surat Asy Syu’araa’ Ayat 165 – 175 yang artinya Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas lalu Mereka menjawab : “Hai Lut, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir” lalu Lut berkata: “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatan mu” (Lut berdoa): “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan’.

Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (istrinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.

Kemudian Kami binasakan yang lain,
Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Sejarah LGBT mulai di deklarasikan pertama kali oleh Karl Heinrich Ulrichs. Ia adalah seorang pegawai negeri sipil di Jerman (PNS) pada tahun 1854 sampai pada akhirnya ia dipaksa untuk mengundurkan diri karena homoseksualitasnya.

Kemudian beliau menjadi aktivis LGBT dan menerbitkan 12 jilid karya tentang seksualitas, termasuk apa yang diyakini sebagai teori pertama tentang homoseksualitas.

Karl Heinrich Ulrich berpendapat bahwa homoseksualitas adalah, ‘kondisi bawaan’ bukan korupsi yang bisa dipelajari, seperti pandangan yang berlaku saat itu.

Dalam Empayar Utsmaniyyah, undang-undang menghukum kehmoseksualan telah dimusnahkan pada tahun 1858, sebagai kebahagiaan dari pada pembaharuan yang lebih luas dalam Tanzimat.

Pada tahun 2011, Majelis Hak Asasi Manusia PBB lulus resolusi pertama mengiktiraf hak LGBT, yang dilanjutkan dengan menyusulnya laporan dari pada Hak Asasi Manusia PBB mendokumenkan pelanggaran hak orang LGBT.

Namun negara-negara mayoritas Islam mencoba menentang langkah-langkah untuk mendokumenkan pelanggaran hak asasi LGBT tersebut di PBB, didalam Perhimpunan Agung atau UNHRC. Namun Albania dan Sierra Leone telah menandatangani perubahan tersebut tanda pengesahan PBB menyokong hak LGBT.

Perubahan di dunia memang sering terjadi di beberapa strata yang berbeda termasuk masalah seksual, namun tetap pada kenyataannya banyak orang lebih menyukai kondisi seksual yang stabil dan normal.

Masalah LGBT yang saat ini sudah masuk ke nusantara tentu tidak serta merta datang secara tiba-tiba,  proses itu semua menoleh kepada kulit luar kebudayaan dan secara bertahap masuk kedalam jantung kebudayaan yang mulai luntur akibat budaya-budaya barat yang tak mencerminkan nilai-nilai identitas kenusantaraan dan keislamannya.

Memang secara hukum reginonal, nasional, dan internasional telah mengakui hak-hak seksual untuk para LGBT, namun tak bisa dipungkiri walaupun sudah mendapat legalitas para kaum LGBT tetap pasti akan mendapat perlakuan yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat (sosialiasi) karena meritokrasi yang tebentuk di kultur masyarakat telah lebih banyak menanamkan nilai-nilai budaya yang positif dari para nenek moyang.

dampak-dampak yang ditimbulkan menurut Prof. DR. Abdul Hamid El-Qudah, spesialis penyakit kelamin menular dan AIDS di asosiasi kedokteran Islam dunia (FIMA) di dalam bukunya Kaum Luth Masa Kini (hal. 65-71) antara lain menyebutkan dapat berupa kesehatan, Dampak sosial, Dampak Pendidikan, Dampak Keamanan.

Hal ini tentu harus menjadi tolak ukur pemerintah indonesia dalam memperlihatkan kebijaksanaannya kepada masyarakat indonesia sebagai negara mayoritas muslim.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaki).

Jika dampak penyimpangan seks yang di timbulkan sedemikian rupa maka cepat atau lambat pergesekan sesama bangsa akan terjadi. ini tentu menjadi sebuah hal yang sangat kita khawatirkan.

Karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2012, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009. Diyakini, jumlah penganut homoseksual hingga 2017 sudah meningkat signifikan.

Jangan sampai indonesia terjebak dalam masalah hubungan ranjang yang tidak normal, bagaimana indonesia dapat berpacu pada kancah internasional,  jika masalah ranjang pun tidak mengikuti pola kodrat yang telah di tatapkan tuhannya.

Bagaimana indonesia mampu bicara meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dari sektor Ekonominya apabila hal vital dan intim pun harus juga di pantau pemerintah. Ekonomi dapat naik apabila di support oleh sumber daya yang baik.

Hasil persentase bercerita, dukungan figur publik terhadap LGBT yang semakin besar ternyata tidak berdampak signifikan tehadap pertumbuhan ekonomi. Dari sini, tersirat bahwa meski figur publik berkoar-koar mendukung LGBT, hanya sedikit dari masyarakatnya yang betul-betul terpengaruh sehingga efek tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi tidak terlalu kentara.

Namun jika melihat faktor pemerintah, setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pro LGBT, maka terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1 persen. Di sini, dapat dilihat bahwa peran pemerintah selaku pembuat kebijakan adalah cukup krusial, baik itu bersifat pro maupun kontra. Dari sini pula, kita dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah yang memiliki kecenderungan pro terhadap LGBT dapat meng-constraint pertumbuhan ekonomi.

Jika bangsa indonesia tidak dapat meyakinkan para pemangku kebijakan, mudah-mudahan tulisan ini dapat menuntun mereka untuk dapat berpikir lebih rasional, bukan hanya sekedera memakai ilmu kira-kira.

Indonesia telah melewati sejarah panjang merebut kemerdekaan indonesia menggunakan sebilah bambu runcing, tapi jangan sampai akibat kebodohan pemangku kekuasaan mengakibat bangsa indonesia kembali di jajah oleh benda yang menyerupai bambu runcing (LGBT).

Karena tuhan pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa tuhan menciptakan adam dan hawa bukan adam dan sumanto.

Penulis : Heri Kurnia
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis UR
MANAJEMEN