Menyambut Kongres HMI Ke-XXX (Antara Nalar Kritis dan Kepentingan Kekuasaan)

    Menyambut Kongres HMI Ke-XXX (Antara Nalar Kritis dan Kepentingan Kekuasaan)

    BERBAGI
    Ahmad Mustofa Kamal (Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Bekasi)
    Image result for banner website

    delikindonesia.com – Sudah ditetapkan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) bahwa untuk pelaksanaan kongres HMI ke-XXX yaitu pada tanggal 12-17 Februari 2018 di Kota Ambon Provinisi Maluku, disisi lain memberikan kepastian kepada para kandidat ketua umum PB HMI periode 2018-2020 untuk mempersipakan diri menuju kemenangan di kursi nomor satu PB HMI.

    Pelaksanaan kongres HMI ke-XXX merupakan mekanisme organisasi untuk membentuk kepengurusan baru dan regenerasi kepemimpinan di tubuh HMI, sehingga HMI pantas dijuluki sebagai organisasi yang moderen karena salah satu syarat untuk menjadi organisasi yang modoren itu adalah lentur di era waktu dan silih berganti dalam kepemimpinan.

    Tentu sudah terbukti sejak 1947 sampai sekarang bendera HMI tetap berkibar dan sudah 29 kali HMI melaksanakan Kongres di berbagai daerah dalam rangka melanjutkan tongkat estapet kepemimpinan dan perjuangan HMI untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

    Pada momentum seperti ini juga sebaiknya merefleksikan diri kita sebagai kader HMI yang harus terus menerus melakukan proses pembinaan dan memperjuangkan perjuangan HMI bukan melainkan menganggap dirinya sebagai kelompok yang elit pada pusaran kekuasaan.

    Kader HMI tetaplah menjadi mahasiswa  yang memiliki jiwa revolusioner dan memiliki pemikiran yang kritis. Dalam konteks ini, Rudi Kaharuddin dalam Syahril Wasahua (2010:20) mengatakan bahwa : “Mahasiswa adalah sebuah struktur unik dalam tatanan kemasyarakatan, politik maupun budaya.” Sehingga dalam keunikannya itu mahasiswa berada pada nalar kebebasan dalam berfikir, berpendapat dan kesatuan peran yang paling mandiri dimana ia menulis skenarionya, memainkan sendiri perannya dan yang pasti mereka juga sebagai sutradaranya karena kemandirian mereka yang luar biasa.

    Seorang Mahatir Mohammad, Biil Clinton, Tony Blair, Barrak Husein Obama, Yusuf Kalla, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, Joko Widodo d.l.l merupakan mantan Mahasiswa. Dengan demikian, komunitas mahasiswa merupakan satu-satunya aktor intelektual yang paling dinamis dalam menagkap dan mengakomodasi sebuah perubahan dan paling harmonis dalam menyuarakan sebuah pendapat yang gandrung akan keadilan dengan demikian eksitensi mahasiswa sebuah corong perubahan.

    Menurut Al-Chaidar dalam Syahril Wasahua (2010:21) “maka mahasiswa menjadi generik dalam hal menyuarakan sebuah pendapat, menjadi satu mata rantai dalam menangkap kegelisahan masyarakat dan berbunyi dengan teriakan yang konstruktif yang sama.” Lanjutnya ia mengatakan karena mahasiswa bisa berbaris dengan barisan yang paling rapat dan rapi, karena mereka berani berbicara jujur ditengah-tengah demam kebohongan, karena mereka bisa saling mencintai di tengah-tengah kebencian.

    Pada ujungnya mahasiswa adalah kelompok yang penuh keajaiban karena merekalah orator-orator sakti yang natural dan karena mereka adalah sistem yang dilindungi oleh alam. Maka dari itu kader HMI yang menyadari peran dan makna dari mahasiswa yang dibalut dengan nilai-nilai dasar perjuangan itu senantiasa akan menjadi pelopor perubahan bukan pengekor dalam perubahan sosial termasuk dalam perhelatan Kongres HMI ke-XXX di Kota Ambon.

    HMI diusianya yang ke-70 tahun, telah matang ditempa oleh waktu. organisasi kemahasiswaan yang tertua ini, bahkan punya kelengkapan organisasi untuk mengatur dan menjalankan organisasi baik platform gerakannya, tetapi kita juga tak boleh lupa, bahwa salah satu kekhasan organisasi pengkaderan seperti HMI, adalah regenerasi kader, setiap periodenya organisasi ini dikelola oleh kader-kader yang terus bergulir. Setiap zamannya kemudian punya corak dan gayanya sendiri. Lalu apa yang bisa membuat warna hijau hitam sanggup diwariskan dari masa kemasa? Jawabannya sebab kita punya garis sejarah, basis ideologi, dan visi yang jelas dan dituangkan ke dalam konstitusi.

    Maka, sarana seperti hajatan Kongres yang diadakan oleh HMI setiap dua tahunnya ini, adalah momentum untuk menggodok arah jalan atau road map kepengurusan HMI. Untuk itu, Kongres selayaknya menjadi peristiwa penting bukan sekedar menjadi ajang perebutan kursi Ketua Umum saja yang selama ini terjadi, tetapi adalah ruang bagi semua kader yang berkaitan atas urat nadi kehidupan organisasi untuk duduk dan memberi kontribusi pemikiran atas organisasi.

    Sehingga proses konsolidasi gagasan dan transisi kepemimpinannya itu harus mampu menjawab tantangan zaman bagi perdaban kemanusiaan. tentu ini menjadi mandat besar bagi ketua umum terpilih sebagai nahkoda baru di kongres HMI ke-XXX untuk merealisasikan hasil-hasil kongresnya dalam keberlangsungan roda organisasi.

    Pada akhirnya kader HMI se-nusantara mempunyai harapan yang tinggi kepada para calon ketua umum PB HMI periode 2018-2020 dan kepada para utusan dan peninjau Kongres HMI ke-XXX dari berbagai cabang untuk merekonstruksi dan membuat kebijakan organisasi yang muatannya membangun untuk kemajuan HMI dan tidak memerankan dirinya diarena Kongres ala “politisi”.

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh” ( Q.S. As-Saff : 04 )

    Penulis : Ahmad Mustofa Kamal
    (Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Bekasi)