Orientasi Perubahan Sosial dan Perubahan Perilaku Generasi Abad 21

    Orientasi Perubahan Sosial dan Perubahan Perilaku Generasi Abad 21

    BERBAGI
    Ibrahim Malik Fatsey (IMF) Wakil Sekertaris Bidang INOKOM HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara
    Image result for banner website

    Delikindonesia.com – Terjadi sebuah perkembangan yang luar biasa di abab ke-21 ini. Perkembangan tersebut meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, hingga ketika melalui instrumen interaksi sosial baik langsung maupun tidak langsung suatu masyarakat dapat melakukan hubungan dengan masyarakat-masyarakat lainnya tanpa batas. Dalam arti sempit terjadi transaksi kebudayaan, sedangkan dalam arti luas terjadi hubungan ekonomi dan politik yang lebih bersifat pragmatis. Masyarakat melakukan transaksi kebudayaan ketika terdapat ketidaksamaan kebudayaan atau kemajemukan di lingkungan eksternalnya sehingga kebudayaan  masyarakat demikian bisa saja syarat akan nilai atau sebaliknya bebas akan nilai tergantung dari ideologi yang digunakan oleh setiap masyarakat tersebut.

    Bahwa secara sosiologi, hubungan interaksi sosial baik individu, kelompok hingga masyarakat dan bahkan bangsa dan Negara yang demikian bebas dan terbuka luas ini, serta dengan dominasi kecanggihan teknologi informasi yang semakin kuat. Memungkinkan nilai ketergantungan dan ruang-ruang interaktif sosial antara yang satu dengan lainnya itu juga semakin meningkat. Hal terpenting yang mesti di garis bawahi dalam proses interaksi sosial ini adalah “dampak” baik positif ataupun negatif yang secara inheren tidak bisa dilepas pisahkan dari ruang interktif sosial itu sendiri.

    Kegiatan bermedia sosial merupakan salah satu ciri dari zaman saat ini yang hampir tidak dapat di lepas pisahkan dan di bending kegunaannya. Bahwa kegiatan tersebut lebih di dominasi oleh siswa dan mahasiswa, tetapi dengan kebebasan demikian semua orang dapat menyebar informasi, berpendapat dengan sekehendak hatinya, sehingga dapat menimbulkan konflik SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).

    Untuk itu, perlunya filternisasi (penyaringan informasi secara baik dan sesuai), maupun upaya untuk menyebarluaskan informasi agar tidak berdampak sosial yang menimbulkan kekacauan atau perselisihan, sehingga diperlukannya komunikasi yang bijak, beretika, dan berkualitas secara inteklektual. Semua itu dikembalikan kepada setiap individu (pengguna yang memberikan perluasan informasi tersebut). kepada “Pancasila” yang memuat norma-norma sosial bagaimana cara bermasyarakat yang baik.

    Terjadinya kekacauan sosial atau perselisihan sosial yang disebarluaskan di media sosial, oleh karena tidak adanya sebuah fundamental yang memiliki keterkaitan positif baik di dorong oleh semangat positifisme dan keterikatan idiologi dalam diri untuk membatasi ketidakpantasan informasi tersebut. Jika, semuanya kehidupan bermasyarakat dikembalikan pada Pancasila, maka tidak ada kekacauan-kekacauan sosial yang terjadi, semua akan berjalan dengan baik di era apapun itu.

    Di zaman ini pula, semua bisa didapatkan secara instan. Perpustakaan semakin sepi, toko buku semakin sepi, dan tempat-tempat belajar juga demikian. Oleh kerena, zaman ini menekankan efektifitas penggunaan media yang bisa dalam genggaman tangan, dimana semua orang bisa mendapatkan apapun melalui instrument media. Orang dapat mendownload ebook gratis, orang dapat belanja online, dan dapat berkomunikasi melalui media untuk mendapatkan pengetahun baru. Namun, banyak yang menyalahgunakannya dengan kebebasan-kebebasan untuk bereksperesi sedemikian rupa, tanpa memperdulikan nilai etis dan moralitasnya, karena semua orang dapat merepost apapun itu baik di Facebook, Instagram, Path, Twitter dan media sosial lainnya.

    Media sosial juga dapat menyebabkan kecanduan bagi penggunanya, karena rasa nyaman yang didapatkan, dan ketertarikan untuk mengetahui informasi-informasi baru dari teman, kecanduan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya kepedulian seorang mahasiswa kepada kuliahnya, kepedulian kepada lingkungan sosialnya, dan juga berakibat pada finansialnya. Dari tahun ke tahun pengguna media sosial terus bertambah, yang di mulai dari internet melalui komputer, kini bisa melalui gadget handphone.

    Mahasiswa sebagai agen perubahan atau sosial engineering, yakni mampu untuk menjadi pelopor perubahan di zaman apapun, kalangan intelegensi mampu terlibat. Di era ini, mahasiswa harus melakukan proses penyadaran atau percontohan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik dan benar di media sosial, yang semua itu sekali lagi dikembalikan pada norma-norma yang ada dalam jiwa Pancasila.

    Kata “Maha” sendiri mengandung arti “Besar”, jadi bukanlah pelajar yang biasa-biasa saja, karena tercermin dari sikap penggabungan antara kebijaksanaan, kedewasaan, dan keilmuan. Untuk itu, di era yang semakin moderen dewasa ini, mahasiswa sangat diharapkan dalam penyebaran informasi yang positif, dan berdampak pada segi kehidupan masyarakat, serta mendukung pembangunan sosial. Secara keseluruhan peran ini dilalui dengan proses pendidikan, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat, yang tidak semata-mata hanya sebuah wacana yang nihil semata.

    Penulis : Ibrahim Malik fatsey
    Wakil Sekertris Bidang INFOKOM HMI Cabang jakarta Pusat-Utara